Pra positifisme adalah realitas berkembang secara alamiah,
metode penelitian deskriptif kualitatif dan penelitian pasif dalam menggambar
apa yang diamati. Peneliti bersifat pasif sehingga tinggal memberi makna dari
apa yang terjadi dan tanpa ingin berusaha untuk merubah. Masa ini disebut masa
pra-positivisme. Menurut Aristoteles untuk memperoleh pengetahuan, manusia
untuk menggunakan hukum-hukum logika seperti law of contracdition (tidak ada
proposisi yang benar dan sekaligus salah) dan law of excluded middle (suatu
proposisi bias benar dan bias salah).Logika dikenal sebagai ilmu tentang alat
untuk mencari kebenaran. Bila disusun secara sistematik, maka metodologi
penelitian merupakan bagian dari logika. Setidaknya ada lima model logika, yaitu
logika formal asristoteles, logika matematik dedutif, logika matematik
induktif; logika matematik probabilistic; dan logika reflektif.Pada tahap
prapositivisme ini, logika Aristoteles tersebut sebagai metode ilmiah tidak
banyak menglami perubahan, meskipun para penerusnya mencoba mengadakan trobosan
dalam mengembangkan metode ini.
Positifisme
merupakan suatu
aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber
pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik.
Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivisme
merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan
logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam
satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1. Tempat utama dalam
positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga
diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika
yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P.
Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2. Munculnya tahap kedua dalam
positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan
berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal
tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal.
Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang
psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
3. Perkembangan positivisme
tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath,
Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh
pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin.
Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis,
positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini
diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan
lain-lain.
Dalam
perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis yang tentunya di
pelopori oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Lingkaran Wina.
Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah. Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.
Tujuan
akhir dari penelitian yang dilakukan pada positivisme logis ini adalah untuk
mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal
dengan ”kesatuan ilmu” yang juga akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara
ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan matematika dianggap sebagai ilmu-ilmu
formal.
Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan
ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa
observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya.
Tekanan positivistik menggaris bawahi penegasannya bahwa hanya bahasa
observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan
dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan
itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah
korespondensi.
Auguste Comte dan Positivisme
Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling
terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam
dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan
hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari
kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Pendiri
filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi
guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah orang
harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses
perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon juga merumuskan 3
tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap Teologis, (periode feodalisme), tahap
metafisis (periode absolutisme dan tahap positif yang mendasari masyarakat
industri.
Comte
menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie
Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi
filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang
semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini
diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud
adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de Bonald),
sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat
sehjarah Condorcet).
Bagi
Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang
kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu :
1. Metode ini diarahkan pada
fakta-fakta
2. Metode ini diarahkan pada
perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini berusaha ke arah
kepastian
4. Metode ini berusaha ke arah
kecermatan.
Metode
positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan,
eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam
ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu
untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-gagasan.
Karl R Popper: Kritik terhadap Positivisme
Logis
Asumsi
pokok teorinya adalah satu teori harus diji dengan menghadapkannya pada
fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya, dan Popper menyajikan
teori ilmu pengetahuan baru ini sebagai penolakannya atas positivisme logis
yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah pada dasarnya tidak lain hanya berupa
generalisasi pengalaman atau fakta nyata dengan menggunakan ilmu pasti dan
logika. Dan menurut positivisme logis tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah
menanamkan dasar untuk ilmu pengetahuan.
Hal
yang dikritik oleh Popper pada Positivisme Logis adalah tentang metode Induksi,
ia berpendapat bahwa Induksi tidak lain hanya khayalan belaka, dan mustahil
dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi. Tujuan Ilmu Pengetahuan
adalah mengembangkan pengetahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai
tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh
positivisme logis adalah induksi dirasakan tidak tepat sebab jenis penalaran
ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku,
karena elemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan,
dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak lengkap sehingga
kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan
menurutnya agar pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran
yang harus dipakai adalah penalaran deduktif.
Penolakan
lainnya adalah tentang Fakta Keras, Popper berpendapat bahwa fakta keras yang
berdiri sendiri dan terpisah dari teori sebenarnya tidak ada, karena fakta
keras selalu terkait dengan teori, yakni berkaitan pula dengan asumsi atau
pendugaan tertentu. Dengan demikian pernyataan pengamatan, yang dipakai sebagai
landasan untuk membangun teori dalam positivisme logis tidak pernah bisa
dikatakab benar secara mutlak.
Post-positivisme,
pada tahun 1970/1980-ana muncullah gugatan-gugatan mengenai kebenaran
positivisme, pemikirannya dinamai post-positivisme. post-positivisme merupakan
pemikiran yang menggugat asumsi dan kebenaran positivisme.Berikut ini
dikemukakan beberapa asumsi dasar post-positivisme, pertama, fakta tidak bebas
melainkan bermuatan teori. Kedua, falibiltas teori.
Post-positivisme
dalam penelitian sosial dan komunikasi, bila positivisme dalam bentuk dan
logika klasiknya ditolak oleh post-positivisme, fondasi filosofis apakah yang
akan digunakan post-positivisme sebagai kerangka kerja penilitian sosialnya.
beberapa penilitian sosial berargumen bahwa kekurangan-kekurangan dari
pemikiran positivisme pada dasarnya membutuhkan dasar filsafat ilmu yang
berbeda, salah satunya adalah menolak dan mengganti prinsip-prinsip positivisme
(seperti ontologi realisme,epistemologis objektif,dan aksiologi bebas-nilai)
dengan bentuk pemikiran yang menghargai prinsip nominalisme, subjektivisme, dan
nilai-nilai yang hadir dengan sendirinya (omnipresent).
Ontologi
post-positivisme, perspektif post-positivisme merupakan aliran yang ingin
memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang hanya mengandalkan kemampuan
pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. secara ontologis
post-positivisme bersifat crittical realism. Crittival realism memandang bahwa
realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alama, tetapi suatu hal
yang mustahil bila manusia (peneliti) dapat melihar realitas tersebut secara
benar (apa adanya, sebagaimana, keyakinan positivisme). Epistemolgi dan
aksiologi, post-positivisme bagaimanapun terlihat sama dengan positivisme,
walaupun ada beberapa perbedaan yang khas. seperti pada basis ontologi,
semenatara positivisme menekankan realisme mutlak, post-positivisme memelih
realisme kritis.
Struktur
dan fungsi teori dalam perspektif post-positivisme terdiri dari :
-
Struktur teori perspektif post-positivisme.
-
Fungsi teori perspektif post-positivisme.
-
Kriteria evaluasi dan perbandingan teori.
-
Proses perkembangan teori.